Profil Usaha

Helmi Zamrudiansyah Laki-laki muda berusia 28 tahun ini pun mencoba peluang dengan berbisnis makanan ringan (snack) yang saat ini digemari sebagian besar masyarakat, terlebih anak muda, sebagai teman ngemil di segala suasana. Helmi dan istrinya ditambah dua orang lagi yang masih berstatus mahasiswa memulai bisnis snack berbahan dasar makaroni yang diberi brand Macarina ini sejak April 2017.

Tapi perjalanan Helmi menemukan inspirasi Macarina ini ternyata tak sesingkat yang dibayangkan. Pernah bekerja sebagai waiters, editor foto, hingga asisten manager memberinya bekal yang cukup untuk kemudian belajar banyak hal untuk menuju step yang lebih tinggi dalam kehidupannya.

Melewati masa-masa menjadi karyawan itu, ia pun kemudian ‘naik kelas’ menjadi owner dari USB Photoshop Jember di tahun 2011-2012, kemudian berbisnis franchise Dawet Jepara 88 Inovasi pada 2015, dan juga membuka outlet minuman Sokelat Jember sejak 2015 hingga sekarang.

Macarina adalah perjalanan selanjutnya yang ia temukan saat merantau ke Jakarta dengan niat ingin mengembangkan sayap Sokelat Jember. Namun, nasib memang tak bisa diprediksi. Di ibu kota, ayah satu anak ini sempat berada pada titik terendah hingga memilih menjadi tukang ojek online kala itu. Tapi siapa sangka, justru dari kondisi itulah, ia terinspirasi oleh Makaroni Ngehe yang memiliki pelanggan sangat banyak di Jakarta. Dari situ, kemudian ia penasaran dan mulai mempelajari seluk beluk sistemnya.

Boleh dibilang, Macarina adalah makaroni hasil modifikasi dari inspirasi Makaroni Ngehe yang saat ini telah memiliki ciri khasnya sendiri. Macarina sendiri sebenarnya merupakan kepanjangan dari makaroninya Ina, nama istrinya.

Pulang ke Jember, ia dan istrinya bersama dua orang mahasiswa yang ia ‘temukan’ saat menjadi pembicara di suatu seminar, kemudian berkolaborasi sebagai sebuah tim. Awalnya, mereka membeli bahan baku kiloan hingga sekarang sudah membeli bahan baku di pabrikan.

Makaroni digoreng biasa, kemudian diberi bumbu-bumbu spesial. “Dulu, awal-awal, saya menggoreng sendiri sama istri mulai jam 3 pagi. Alhamdulillah sekarang sudah ada yang mengerjakan sendiri.”, kisahnya mengingat awal-awal perjuangannya.

Berawal dari outlet di Jalan Kalimantan (dekat double way Universitas Jember), saat ini Macarina telah berkembang hingga Bondowoso, Rambipuji, membuka outlet baru di Jalan Karimata, hingga memiliki rumah produksi di Jalan Sriwijaya yang dinamakan Graha Macarina. Bahkan kabarnya, sebentar lagi, Macarina berencana menyewa ruko baru untuk menggantikan outlet di tepi Jalan Kalimantan. Ini dilakukan sebagai upaya antisipasi penggusuran PKL yang isunya mulai terdengar.

Cara memasarkan produknya, Helmi mengaku masih berfokus pada pemasaran online dan reseller.Saat ini tercatat dengan tim inti 5 orang, Macarina telah memiliki 10 orang karyawan, dan 42 reseller.

Tim inti itu adalah manajemen dibalik suksesnya Macarina ini. Mereka adalah Helmi (CEO Macarina), Ina (Chief Production Officer), Ilham yang juga mahasiswa Faperta Universitas Jember (Chief Operational Officer), Rofi yang sama-sama mahasiswa Faperta Universitas Jember (Chief Financial Officer), dan di bulan September ini menambah 1 tim inti baru demi memenuhi standar peningkatan pelayanan yang kian dibutuhkan. Posisi ini diperkuat oleh A. Haerul Anam, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Prodi Sastra Inggris Universitas Jember sebagai Chief Customer Service Officer. 

“Senangnya saat ada cerita-cerita seperti yang dialami seorang siswa yang menjadi reseller. Hanya dengan dua minggu jadi reseller, eh dia sudah bisa beli HP android dari hasil jual Macarina.”, ungkap Helmi lagi dengan semangat.

Pencapaian Macarina saat ini sebenarnya memang diluar ekspetasi Helmi dan tim. Apalagi melihat usia Macarina yang baru seumur jagung. Di bulan pertama membuka Macarina, omsetnya mencapai 18,9 juta rupiah, dan di bulan keempat, sudah mencapai 150 juta rupiah. Luar biasa.

IMG-20180117-WA0001

Helmi yang awalnya juga memulai wirausaha karena latar belakang menambah biaya untuk keluarga ini, membeberkan rahasia suksesnya adalah motivasi bahwa kita harus jadi pemenang dan tuailah kebaikan-kebaikan kecil yang impact nya besar. Selama kita percaya campur tangan Tuhan, insyaallah tidak ada yang tidak mungkin.

Terakhir, quote favoritnya yang juga ia ingat-ingat adalah “keyakinan dapat mematahkan segalanya dan ilmu menyempurnakan segalanya.”

Semoga kisah Helmi dan Macarina bisa menginspirasi arek lokal untuk terus menangkap peluang di sekitar kita dan berinovasi dengan ilmu dan pengalaman yang kita punya ya!